Metode amplop: cara menabung kuno yang justru cocok untuk zaman uang digital
Ketika saldo hanya angka di layar, membagi uang ke dalam amplop mengembalikan rasa 'habis' yang hilang.
Nenek kita dulu menyimpan uang di beberapa amplop: satu untuk belanja dapur, satu untuk listrik, satu untuk arisan. Kalau amplop belanja kosong di tanggal dua puluh, ya sudah, menu minggu itu lebih sederhana. Kedengarannya kuno, tetapi metode ini punya satu kelebihan yang hilang dari uang digital: batasnya terasa.
Di aplikasi bank, semua uang berada dalam satu angka besar. Saat kita membayar kopi, angka itu berkurang sedikit, dan otak kita tidak merasakan apa-apa. Tidak ada amplop yang terlihat menipis.
Baca juga: Seminggu setelah Lebaran, dompet terasa lebih tipis dari yang diperkirakan
Cara mencobanya tanpa harus pakai uang tunai
Tidak perlu benar-benar menarik uang tunai. Banyak orang sekarang membuat beberapa rekening atau kantong terpisah di aplikasi yang sama, lalu memberi nama tiap kantong seperti nama amplop: makan, transportasi, tabungan, uang senang-senang. Di awal bulan, gaji dibagi ke kantong-kantong ini, dan setiap pengeluaran diambil dari kantong yang sesuai.
Aturannya cuma satu: kalau satu kantong habis, tidak boleh meminjam dari kantong lain. Di sinilah rasa 'habis' itu kembali, dan di situlah kebiasaan mulai berubah.
Kami mencoba ini sejak awal tahun, dan hal yang paling mengejutkan bukan penghematannya, melainkan betapa cepat kita tahu kantong mana yang selalu jebol. Itu informasi yang tidak pernah diberikan oleh satu angka besar di layar.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.