Edisi 12 Oktober 2026Uang yang bekerja untuk hidupmu.
← Dompet CerdasUtang

Meminjamkan uang kepada keluarga: percakapan yang lebih sulit dari jumlahnya

Soal uang, soal hubungan.

Awal tahun sering menjadi musim permintaan pinjaman di keluarga. Ada yang perlu untuk biaya masuk sekolah, ada yang usahanya seret di bulan-bulan sepi, ada yang sekadar menambal pengeluaran Desember. Dan yang diminta biasanya bukan bank, melainkan kakak, adik, atau sepupu yang dianggap 'lebih mapan'.

Tidak ada rumus yang benar untuk ini, tetapi ada satu prinsip yang kami pegang: hanya pinjamkan uang yang kita siap ikhlaskan. Kalau jumlahnya akan mengganggu dana darurat atau cicilan sendiri, jawabannya sebaiknya tidak, atau lebih kecil dari yang diminta.

Baca juga: Menutup buku tahun: tiga pertanyaan sebelum kalender berganti

Kedua, bicarakan hal-hal yang biasanya dianggap tidak sopan dibicarakan: kapan dikembalikan, dengan cara apa, dan apa yang terjadi kalau terlambat. Menuliskannya, meski hanya dalam pesan singkat, bukan tanda tidak percaya. Justru itu yang menjaga hubungan ketika ingatan kedua pihak mulai berbeda.

Ketiga, bedakan antara meminjamkan dan memberi. Kadang lebih jujur, dan lebih ringan untuk semua orang, memberi jumlah yang lebih kecil tanpa menagih daripada meminjamkan jumlah besar yang akan menghantui pertemuan keluarga berikutnya.

Dan kalau kita yang berada di posisi meminjam, prinsip yang sama berlaku dari sisi sebaliknya. Katakan jujur untuk apa, kapan bisa kembali, dan kabari lebih dulu jika meleset. Orang biasanya lebih mudah memaafkan keterlambatan daripada keheningan.

KA
Kartika AnggrainiKartika menulis artikel pertama Dompet Cerdas pada 2022 dan mengisi situs ini hingga 2023. Ia pernah bertahun-tahun bekerja sebagai teller bank, dan dari balik loket itulah ia mengamati betapa banyak orang yang tidak tahu ke mana uang mereka pergi setiap bulan.
Dapatkan tulisan baru Dompet Cerdas lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.